Lari Saat Puasa: Aman atau Tidak?

Lari Saat Puasa: Aman atau Tidak?

Senin, 16 Februari 2026 08:00

Menjelang bulan puasa, banyak pelari mulai bertanya-tanya: apakah masih aman untuk tetap berlari? Di satu sisi, lari sudah jadi kebiasaan yang sayang ditinggalkan. Di sisi lain, ada kekhawatiran soal dehidrasi, lemas, atau malah jatuh sakit. Pertanyaan ini wajar, dan jawabannya tidak hitam-putih.

Lari saat puasa pada dasarnya aman, selama dilakukan dengan cara yang tepat dan dengan ekspektasi yang realistis.

Aman, Tapi Bukan Seperti Hari Biasa

Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan dan energi selama berjam-jam. Artinya, kondisi tubuh jelas berbeda dibanding hari normal. Karena itu, lari saat puasa sebaiknya tidak disamakan dengan latihan biasa. Tujuannya bukan meningkatkan performa, melainkan menjaga kebiasaan dan kebugaran.

Jika lari dilakukan terlalu keras, risikonya justru lebih besar daripada manfaatnya. Kuncinya ada pada menurunkan intensitas dan mendengarkan sinyal tubuh.

Waktu Lari yang Paling Masuk Akal

Pemilihan waktu sangat menentukan kenyamanan dan keamanan saat lari di bulan puasa.

Banyak pelari memilih lari menjelang waktu berbuka, karena setelah selesai berlari bisa langsung minum dan makan. Opsi ini cocok untuk lari singkat dengan intensitas ringan. Tubuh memang sudah lelah di akhir hari, jadi penting untuk tidak memaksakan diri.

Ada juga yang memilih lari setelah berbuka, biasanya setelah jeda satu hingga dua jam. Ini relatif paling aman karena tubuh sudah terhidrasi dan mendapat energi. Kekurangannya, rasa kenyang atau kantuk kadang jadi tantangan tersendiri.

Sebagian kecil pelari memilih lari sebelum sahur, terutama jika ingin suasana yang lebih sejuk. Namun opsi ini menuntut disiplin tinggi dan pemulihan yang baik, karena waktu tidur biasanya jadi lebih pendek.

Tidak ada waktu yang paling benar untuk semua orang. Pilih waktu yang paling sesuai dengan kondisi tubuh dan rutinitas harian.

Jenis Lari yang Sebaiknya Dilakukan

Di bulan puasa, easy run adalah pilihan paling aman dan masuk akal. Lari santai dengan napas terkontrol jauh lebih bermanfaat dibanding memaksakan latihan berat. Interval, tempo run, atau latihan kecepatan sebaiknya dikurangi atau bahkan dihindari sementara.

Jika biasanya kamu punya target jarak atau pace, bulan puasa adalah waktu yang tepat untuk menurunkan ekspektasi. Menjaga konsistensi jauh lebih penting daripada mengejar angka.

Tanda Tubuh Perlu Berhenti

Salah satu kesalahan paling berbahaya adalah mengabaikan sinyal tubuh. Saat puasa, tubuh lebih cepat memberi tanda kalau sudah tidak nyaman. Pusing, mual, pandangan berkunang-kunang, atau lemas berlebihan adalah tanda jelas untuk berhenti.

Berhenti bukan berarti gagal. Justru itu bentuk kedewasaan dalam berlari. Tidak ada manfaat dari memaksakan satu sesi lari jika dampaknya harus istirahat berhari-hari setelahnya.

Soal Dehidrasi dan Pemulihan

Karena tidak bisa minum saat lari, pengaturan cairan sebelum dan sesudah puasa jadi krusial. Pastikan kebutuhan cairan tercukupi saat sahur dan berbuka. Pemulihan setelah lari juga perlu diperhatikan, baik dari sisi minum, makan, maupun istirahat.

Tidur yang cukup sering kali jadi tantangan di bulan puasa, padahal ini berpengaruh besar pada kemampuan tubuh untuk pulih. Jika tidur berantakan, wajar jika intensitas lari juga perlu diturunkan.

Tidak Lari Juga Tidak Masalah

Hal yang sering dilupakan: tidak lari sama sekali selama puasa pun bukan sebuah kegagalan. Ada fase dalam setahun di mana prioritas tubuh dan aktivitas memang berubah. Jika tubuh terasa tidak siap, berjalan kaki ringan atau istirahat total juga pilihan yang valid.

Lari adalah perjalanan jangka panjang. Melewatkan beberapa minggu tidak akan menghapus semua progres yang sudah dibangun.

***

Lari saat puasa aman untuk sebagian besar orang, selama dilakukan dengan bijak. Turunkan intensitas, pilih waktu yang tepat, dan dengarkan tubuh. Puasa bukan waktu untuk memaksakan performa, melainkan kesempatan untuk berlari dengan lebih sadar dan penuh kontrol.

Kalau tujuanmu tetap bergerak dan menjaga kebiasaan, itu sudah lebih dari cukup.

Masuk
Beranda Kirim Jadwal Arsip Pesan LibuRun